Heboh !! Gempa Aceh Semburkan Emas


Heboh !! Gempa Aceh Semburkan Emas, Masyarakat di Haloban Aceh, heboh dengan munculnya semburan berwarna kuning pascagampa 7,2 SR. Menurut ilmuwan semburan itu benar-benar emas atau bukan?

Setelah gempa berkekuatan 7,2 skala Ricter 7 April lalu, semburan lumpur dilaporkan muncul dari bawah permukaan laut di Kepulauan Banyak Kabupaten Aceh Singkil. Yang mengejutkan semburan itu mengangkat batu berwarna kuning dari perut bumi.

Warga percaya bongkahan batu berwarna kuning itu mengandung emas. Akibatnya, meskipun dilarang, puluhan nelayan di kepulauan Haloban menyelam di bawah permukaan laut sedalam lima meter berharap mendapat emas.

Namun kemunculan emas di Aceh itu dibantah pakar geologi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia Awang Harun Satyana, karena tiap mineral memiliki jalur tersendiri termasuk emas.

Sementara wilayah perairan Haloban di sekitar pulau Banyak adalah daerah subduksi di mana lapisan kerak samudera lebih banyak mengandung nikel, mangan, pirit, arsenopirit, dan bukan emas.

“Benda berwarna kuning keemasan sebenarnya bukan hanya pada emas, tetapi juga dari mineral lain. Wilayah Banyak tidak memiliki sejarah kandungan emas melainkan kawasan subduksi. Jadi saya rasa kemungkinan emas itu kecil sekali. Malah, kemungkinan besar benda kuning yang mereka lihat adalah pirit atau arsenopirit yang memiliki ciri hampir mirip,” jelasnya saat dihubungi INILAH.COM dari Jakarta.

Semburan pada dasarnya sangat mungkin muncul jika terjadi gempa yang mengguncang lapisan air bawah tanah. Guncangan tersebut akan menggeser lapisan tanah, sehingga memberi tekanan pada air dan menyebabkan mineral yang terkandung di sekitar kawasan semburan ikut naik.

“Semburan tersebut bisa terhubung ke bagian sekitarnya dan membawa air, lumpur serta mineral,” kata Awang. Ia menegaskan kemungkinan kecil mineral itu adalah emas, jika dilihat dari cara terbentuknya.

Logam mulia itu terjadi lewat mineralisasi di mana dibutuhkan proses magmatisme atau vulkanik untuk menciptakan temperatur panas. Cairan dari magma akan naik ke permukaan kemudian menyentuh batuan di sekitar cairan magma, dan terjadi proses kimia hingga terbentuknya emas.

“Proses terbentuknya emas adalah masa umur muda yaitu sekitar 27 juta tahun. Sementara di kawasan tersebut belum pernah terjadi proses vulkanik atau magmatisme. Kenapa? Karena memang tidak ada kawasan gunung api di sekitar wilayah tersebut. Posisi Banyak merupakan daerah subduksi,” ujar Awang.

Oleh karena itu, kata Awang, kebanyakan masyarakat Aceh mencari emas di kawasan Bukit Barisan di mana banyak jalur gunung api. Di lain pihak, kawasan Banyak merupakan pulau luar hingga selatan menjadi tempat bagi masyarakat mencari mineral dari kandungan subduksi, misalnya nikel.

Awang menganggap banyak masyarakat yang masih salah kira wujud emas berdasarkan ciri kuning berkilau saja. “Masyarakat mengira dari warna, tapi berdasarkan sumber saya, ini kemungkinan besar adalah pirit karena memang jalur emas bukan di daerah sana. Dan juga bukan wilayah terbentuknya emas,” tegas Awang.

Menurut Awang, pendapat geolog hanya berdasarkan sejarah lapisan bumi sehingga untuk meyakinkan butuh bukti fakta melalui pengamatan langsung benda kuning tersebut. “Berdasarkan susunan lapisan bumi memang seperti itu, namun agar lebih yakin perlu meneliti lebih lanjut.”

Peneliti geologi LIPI Herryal Z Anwar mengatakan Banyak bukan wilayah hidrothermal, namun perlu penelitian lebih lanjut, karena tidak menutup kemungkinan adanya kondisi baru yang memungkinkan terbentuknya emas.

“Secara teoritis pada dasarnya kecil sekali kemungkinan munculnya emas di daerah tersebut. Namun perlu pembuktian dahulu, jika benar ada, tentu saja ini dapat mengubah teori yang ada,” jelasnya.

Emas, jelas Herryal merupakan salah satu mineral dengan deposit yang banyak di Indonesia, salah satunya di kawasan Aceh. Gempa, memang tidak dapat menciptakan proses pembentukan emas namun dapat mengeksploitasi kawasan yang menyimpan emas. “Bisa jadi di sini tidak ada deposit emas. Tapi proses getaran bisa menyingkap wilayah deposit emas untuk muncul,” kata Herryal.

Herryal melihat munculnya semburan berwarna kuning itu sebagai sebuah kesempatan bagi masyarakat Indonesia khususnya peneliti untuk mendapatkan teori baru apakah benar ada emas di kawasan tersebut. “Ini saya lihat sebagai sebuah kesempatan,” katanya.

Secara metodologis, lanjutnya, memang tidak mungkin jika dilihat dari kondisi geologis. Namun sebaiknya ilmuwan tidak sekadar berargumentasi, namun langsung melihat ke kawasan tersebut.

“Dengan penelitian yang jelas serta pengamatan, tentunya akan mendapatkan kenyataan benar tidaknya. Jika benar ada emas, tentu saja ini ilmu pengetahuan baru yang dapat mengubah teori yang telah ada,” papar Herryal.

Sumber ; Inilah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s